'c1k4dutz666 was here.... Hasil Survei “Ahok, Partai Politik dan Teman Ahok” | Survei Indo Barometer


Loading...
Indo Barometer
Survei
Indo Barometer
Barometer Prilaku Masyarakat Indonesia
Hasil Survei “Ahok, Partai Politik dan Teman Ahok”

Rabu 15 Juni 2016


“AHOK, PARTAI POLITIK DAN TEMAN AHOK”

Pada 10-12 Juni 2016, Indo Barometer kembali melakukan survei opini publik tentang Ahok, Partai Politik, dan Teman Ahok. Mungkinkah Gubernur DKI Jakarta itu maju sebagai Cagub bersama Djarot melalui partai politik? Jika ternyata mungkin dan Ahok memilih jalur partai politik bersama Wagubnya kini, lalu bagaimana nasib Teman Ahok yang sudah mengumpulkan KTP dukungan yang hampir mencapai 1 juta?

Berikut temuan survei Indo Barometer yang dilakukan melalui wawacara via telepon (telephone survey) kepada 400 responden, yang berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah:

1. Mayoritas responden (46,3%) menjawab tidak mungkin bahwa Ahok dan Djarot rujuk (berpasangan) kembali pada pilkada DKI Jakarta 2017. Sebesar 37,8 persen responden menjawab mungkin. Dan sebesar 16,0 persen tidak tahu atau tidak jawab.

2. Alasan utama responden menjawab bahwa Ahok dan Djarot mungkin berpasangan kembali di pilkada DKI Jakarta 2017 (Base Line: 37.8% responden) adalah; karena keduanya (Ahok dan Djarot) cocok atau serasi (36,4%), kinerja keduanya bagus (29.8%), politik dinamis (17,2%), untuk melanjutkan program (7,9%), keinginan PDIP (4,6%), bila Ahok berubah pikiran (2,6%), Heru mau mundur (1,3%).

3. Sedangkan alasan utama responden menjawab Ahok dan Djarot tidak mungkin rujuk (berpasangan) kembali di Pilkada DKI Jakarta 2017 (Base line : 46,3% responden) adalah: Ahok tetap melalui jalur perseorangan (73,0%), beda jalur (7,6%), Djarot tidak mau keluar dari PDIP (6,5%), Ahok tetap dengan Heru (5,4%), kurang cocok (3,8%), Ahok maju bersama Teman Ahok (1,6%), belum tentu Megawati setuju (1,1%), KTP dukungan Ahok sudah banyak (0,5%), tidak tahu/tidak jawab (0,5%).

4. Mayoritas responden(46,5%) menjawab bahwa jika Ahok dan Djarot berpasangan kembali di pilkada DKI Jakarta 2017, maka mereka akan maju melalu jalur perseorangan. Sebanyak 33,0 persen responden menjawab bahwa mereka (Ahok dan Djarot) akan maju melalui jalur politik. Dan sebesar 20,5 persen responden tidak tahu/tidak jawab.

5. Mayoritas responden (47,8%) menjawab setuju warga DKI Jakarta melalui Teman Ahok mengumpulkan KTP kembali jika Ahok dan Djarot maju melalui jalur perseorangan. Sebanyak 33,3 persen responden menjawab tidak setuju, sebanyak 18,8 persen responden tidak tahu atau tidak jawab.

6. Mayoritas responden (60,6%) menjawab nasib sejuta KTP yang sudah dikumpulkan akan sia-sia jika Ahok dan Djarot diusung partai politik pada pilkada DKI Jakarta 2017, sebesar 16,7 persen menjawab dibuang, disimpan (16,7%), kenang-kenangan (0,8%), dibakar (0,8%), tidak tahu atau tidak jawab (4,5%).

7. Pendapat responden jika Ahok meninggalkan jalur perseorang dan memilih maju melalui jalur politik yaitu: pendukung kecewa (30,8%), yang penting Ahok tetap Cagub (12,3%), hak politik Ahok (10,5%), idealnya Ahok maju lewat parpol (3,3%), plin plan (2,5%), lebih berpeluang menang (2,5%), lupa perjuangan Teman Ahok (2,3%), haus kekuasaan (1,8%), lainnya (2,5%), tidak ada, karena Ahok perseorangan (26,5%), tidak tahu/tidak jawab (5,3%).

8. Menurut responden tentang nasib Teman Ahok jika akhirnya Ahok meninggalkan jalur perseorangan yaitu: kecewa (33,5%), tetap dukung Ahok (22,5%), bubar (8,0%), mengikhlaskan (6,8%), perjuangan sia-sia (4,0%), harus dirangkul (2,0%), risiko politik (1,8%), tidak akan pilih Ahok (1,8%), lainnya (2,0%), tidak ada, Ahok maju bersama Teman Ahok (12,8%), dan tidak tahu/tidak jawab (5,0%).

9. Mayoritas responden (49,8%) menjawab verifikasi KTP berdasarkan UU Pilkada yang baru merugikan Ahok. Sebesar 9,8 persen responden menjawab menguntungkan. Dan sebesar 40,5 persen responden tidak tahu atau tidak jawab.

10. Alasan utama responden menjawab verifikasi KTP berdasarkan UU Pilkada yang baru akan menguntungkan Ahok (base line: 9,8 % responden), yaitu: bukti dukungan Ahok valid (82,1%), membuktikan Teman Ahok benar (12,8%), tahu suara pemilih awal Ahok sebenarnya (5,1%).

11. Alasan utama responden menjawab verifikasi KTP berdasarkan UU Pilkada yang baru akan merugikan Ahok adalah: pencalonan Ahok bisa terjegal (41,2%), KTP dukungan bisa berkurang (36,7%), verifikasinya rumit (17,1%), waktu verifikasi singkat (3,5%), pendukung harus cuti (0,5%), cara agar Ahok mundur (0,5%), tidak tahu/tidak jawab (0,5%).

Survei opini publik ini dilakukan dengan menggunakan metode systematic random sampling (penarikan data secara acak). Responden diambil dari yellow book (buku kuning). Adapun margin of error ± 5% dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk melihat grafik survei yang lengkap, silakan mengacu pada laporan PDF.

Demikian temuan survei Indo Barometer untuk dapat memperkaya diskusi dan wacana tentang Pilkada DKI Jakarta 2017. Survei terselenggara berkat kerjasama Indo Barometer dan TV One.

z