Loading...
Indo Barometer
Survei
Indo Barometer
Barometer Perilaku Masyarakat Indonesia
Dinamika dan Proyeksi Pilkada Jawa Barat

Kamis 19 April 2018
Download File


Survei Pilkada Jawa Barat ini dilaksanakan pada 20 – 26 Maret 2018. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan 1200 responden. Margin of error sebesar ± 2.83%, pada tingkat kepercayaan 95%. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner.


Temuan pokok survei adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan  pertanyaan  terbuka  calon  gubernur,   awareness  pemilih  yang  paling  tinggi terhadap Mochamad Ridwan Kamil (28.7%). Disusul Deddy Mizwar (19.9%). Kemudian Sudrajat (3.3%), Hasanuddin (2.3%), dan Dedi Mulyadi (1.1%). Nama lainnya (0.8%). Pemilih yang menyatakan tidak tahu/tidak jawab (43.9%).


2. Berdasarkan pertanyaan tertutup terhadap 4 nama calon gubernur, Mochamad Ridwan Kamil unggul dengan dukungan (37.5%). Disusul Deddy Mizwar (30.8%). Selisih antara Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar sekitar (6.7%). Kemudian Sudrajat (5.4%), dan Hasanuddin (3.2%). Pemilih yang menyatakan tidak akan memilih/rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab (23.1%).


3. Berdasarkan  pertanyaan  terbuka  calon  wakil  gubernur,  awareness  pemilih  terhadap  Dedi Mulyadi (15.8%), Uu Ruzhanul Ulum (15.3%), Sudrajat (4.6%), Ahmad Syaikhu (3.8%), Deddy Mizwar (1.3%), dan Anton Charliyan (1.3%). Nama lainnya (0.7%). Tidak tahu/tidak jawab (57.4%).


4. Berdasarkan  pertanyaan  tertutup  terhadap  4  nama  calon  wakil  gubernur,  Dedi  Mulyadi memperoleh dukungan sebanyak (24.7%), berimbang dengan Uu Ruzhanul Ulum yang memperoleh dukungan (24.4%). Kemudian Ahmad Syaikhu (5.3%), dan Anton Charliyan (2%). Tidak akan memilih/rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab (43.6%).


5. Berdasarkan  pertanyaan  terbuka  terhadap  pasangan  calon  gubernur  dan  wakil  gubernur, awareness pemilih terhadap pasangan Mochamad Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum (17.7%), pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi (13.4%), pasangan Sudrajat – Ahmad Syaikhu (3.3%), dan  pasangan  Hasanuddin  –  Anton  Charliyan  (0.5%).  Pasangan  lainnya  (14.1%).     Tidak tahu/tidak jawab (51%).


6. Dari  simulasi  dengan  mengunakan  surat  suara,  tingkat  keterpilihan  pasangan  Mochamad Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum (36.7%). Selisih 5.4% dengan pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi yang memperoleh dukungan (31.3%). Kemudian pasangan Sudrajat – Ahmad Syaikhu (5.4%), dan pasangan Hasanuddin – Anton Charliyan (3.4%). Pemilih yang tidak menandai apapun di surat suara (23.3%). 


7. Tingkat pengenalan calon Gubernur Provinsi Jawa Barat sebagai berikut : Deddy Mizwar (98%). Kemudian Mochamad Ridwan Kamil (87.2%), Hasanuddin (31.6%), dan Sudrajat (30.5%).


8. Tingkat pengenalan calon Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat sebagai berikut : Dedi Mulyadi (73.8%), Uu Ruzhanul Ulum (51.9%), Ahmad Syaikhu (33.9%), dan Anton Charliyan (26.3%).


9. Tingkat kesukaan calon Gubernur Provinsi Jawa Barat sebagai berikut :   Mochamad Ridwan Kamil (85.6%), Kemudian Deddy Mizwar (77.6%). Sudrajat (29.8%) dan Hasanuddin (19.3%).


10. Tingkat kesukaan calon Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat sebagai berikut : Dedi Mulyadi (75.1%), Uu Ruzhanul Ulum (60.7%), Ahmad Syaikhu (33.4%), dan Anton Charliyan (14.6%).


11. Alasan utama publik memilih calon Gubernur adalah dekat dengan rakyat (18.5%), kinerjanya bagus (mampu bekerja) (12.8%), orangnya tegas (9.9%), berpengalaman (9.6%), dan pintar/intelektual (7.9%).


12. Alasan utama publik memilih calon Wakil Gubernur adalah dekat dengan rakyat (15.2%), pintar/intelektual (12.1%), taat beragama (11.8%), orangnya tegas (8%), dan berpengalaman (6.1%).


13. Alasan  utama  publik  memilih  pasangan  calon  Gubernur  dan  Wakil  Gubernur  adalah  dekat dengan rakyat (15.6%), kinerjanya bagus (mampu bekerja) (15.3%), berpengalaman (14.3%), ingin perubahan lebih baik (6.4%), dan pasangan cocok (5.9%).


14. Dinamika Pilkada Jawa Barat jika dilihat dari data survei pada Februari - Maret 2017 sampai dengan Maret 2018 adalah sebagai berikut :


- Dinamika  elektabilitas  calon  gubernur,  Mochamad  Ridwan  Kamil  dan  Deddy  Mizwar terlihat fluktuasi. Elektabilitas Mochamad Ridwan Kamil dari (26.6%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (37.5%) pada Maret 2018. Sedangkan Elektabilitas Deddy Mizwar dari (19.3%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (30.8%) pada Maret 2018. Kemudian elektabilitas Sudrajat dari (0.1%) pada Januari 2018, menjadi (5.4%) pada Maret 2018. Dan elektabilitas Hasanuddin dari (1.1%) pada Januari 2018, menjadi (3.2%) pada Maret 2018.


- Dinamika elektabilitas calon wakil gubernur, Dedi Mulyadi dan Uu Ruzhanul Ulum terlihat bersaing, elektabilitas Dedi Mulyadi dari (8%) pada survei Oktober 2017, menjadi (24.7%) pada Maret 2018. Sedangkan elektabilitas Uu Ruzhanul Ulum dari (1.1%) pada survei Mei 2017 menjadi  (24.1%)  pada  Maret  2018.  Kemudian  elektabilitas  Ahmad  Syaikhu  dari (2.8%) pada Mei 2017, menjadi (5.3%) pada Maret 2018. Dan elektabilitas Anton Charliyan (2.1%) pada Januari 2018 menjadi (2%) pada Maret 2018.


- Dinamika elektabilitas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, pasangan Mochamad Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum terlihat menurun 8.1%, dari (44.8%) pada survei Januari 2018, menjadi (36.7%) pada Maret 2018. Disusul elektabilitas pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi naik 3.4%, dari (27.9%) pada Januari 2018 menjadi (31.3%) pada Maret 2018. Sedangkan elektabilitas pasangan Sudrajat – Ahmad Syaikhu naik 4.5%, dari (0.9%) pada Januari 2018 menjadi (5.4%) pada Maret 2018. Dan elektabilitas pasangan Hasanuddin – Anton Charliyan naik 2.4%, dari (1%) Januari 2018, menjadi (3.4%) pada Maret 2018 . 


- Dinamika  tingkat  pengenalan  calon  gubernur,  Mochamad  Ridwan  Kamil  terlihat  naik 21.8%, dari (65.4%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (87.2%) pada Maret 2018. Dan tingkat pengenalan Deddy Mizwar terlihat stabil, dari (97.8%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (98%) pada Maret 2018. Sedangkan tingkat pengenalan Hasanudin naik 24.6%, dari  (7%)  pada  Februari-Maret  2017,  menjadi  (31.6%)  Maret  2018.     Dan  tingkat pengenalan Sudrajat naik 19.4%, dari (11.1%) pada Januari 2018, menjadi (30.5%) pada Maret 2018. Tingkat pengenalan Hasanudin dan Sudrajat tergolong rendah (<50%).


- Dinamika  tingkat  kesukaan  calon  Gubernur  terlihat  menurun,  kesukaan    Mochamad Ridwan Kamil dari (93.9%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (85.6%) pada Maret 2018. Tingkat kesukaan Deddy Mizwar (81.8%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (77.6%) pada Maret 2018.  Tingkat  kesukaan  Hasanudin (78.6%) pada Februari-Maret 2017,  menjadi (19.3%) pada Maret 2018.  Dan tingkat kesukaan Sudrajat dari (37.1%) pada Januari 2018, menjadi (29.8%) pada Maret 2018. Tingkat kesukaan Hasanudin dan Sudrajat tergolong rendah (<50%).


- Dinamika tingkat pengenalan calon Wakil Gubernur terlihat naik. Tingkat pengenalan Dedi Mulyadi naik 47.4%, dari (26.4%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (73.8%) pada Maret 2018. Tingkat pengenalan Uu Ruzhanul Ulum naik 42.4%, dari (9.5%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (51.9%) pada Maret 2018. Tingkat pengenalan Akhmad Syaikhu naik 20.4%, dari (13.5%) pada Mei 2017, menjadi (33.9%) pada Maret 2018. Dan Tingkat pengenalan Anton Charliyan naik 10.8%, dari (15.5%) pada Januari 2018, menjadi (26.3%) pada Maret 2018. Tingkat pengenalan Akhmad Syaikhu  dan Anton Charliyan tergolong rendah (<50%).


- Dinamika tingkat kesukaan calon Wakil Gubernur terlihat menurun. Tingkat kesukaan Dedi Mulyadi  dari  (80.6%)  pada  Februari-Maret  2017,  menjadi  (75.1%)  pada  Maret  2018. Tingkat kesukaan Uu Ruzhanul Ulum (72.4%) pada Februari-Maret 2017, menjadi (60.7%) pada Maret 2018. Tingkat kesukaan Akhmad Syaikhu (63%) pada Mei 2017, menjadi (33.4%) pada Maret 2018.   Dan Tingkat kesukaan Anton Charliyan (29.8%) pada Januari 2018, menjadi (14.6%) pada Maret 2018. Tingkat kesukaan Akhmad Syaikhu   dan Anton Charliyan tergolong rendah (<50%).


15. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Ahmad Heryawan sebagai Gubernur Provinsi Jawa Barat sebesar (41.3%). Yang tidak puas (34.8%). Tidak tahu/tidak jawab (24%).


16. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Deddy Mizwar sebagai Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat sebesar (45.3%). Yang tidak puas (30.6%). Tidak tahu/tidak jawab (24.1%).


17. Sebanyak (37.2%) pemilih menginginkan Deddy Mizwar menjadi Gubernur Provinsi Jawa Barat untuk periode 2018-2023. Yang tidak menginginkan (28.3%). Tidak tahu/tidak jawab (34.6%).


18. Permasalahan terpenting di provinsi Jawa Barat yang banyak diungkap  publik adalah : sulit lapangan pekerjaan/banyaknya pengangguran (30,8%), mahalnya harga kebutuhan pokok (16.8%),  banyaknya warga miskin (12.3%), kondisi jalan buruk/rusak (7.2%), dan sering terjadi bencana alam (banjir, longsor) (5.1%).


19. Permasalahan terpenting di lingkungan tempat tinggal yang banyak diungkap publik adalah : kondisi jalan buruk/rusak (23%), sulit lapangan pekerjaan/banyak pengangguran (20,5%), mahalnya harga kebutuhan pokok (7.3%), kurangnya tempat pembuangan sampah (6.3%), dan kurangnya fasilitas lampu jalan (4.3%). 


20. Tiga Skenario Pilgub Jawa Barat:


-   Skenario 1; RINDU Menang, jika RINDU mampu mempertahankan keunggulan suara


-   Skenario 2; 2DM Menang, jika 2DM mampu mengejar ketertinggalan suara


-    Skenario Kejutan; Underdog yang Menang, pasangan Asyik dan Hasanah.


21. Berdasarkan temuan di atas, dinamika politik masih sangat kompetitif. Apalagi berdasarkan pengalaman Pilkada 2008 dan 2013. Pertarungan makin ketat dengan bertambahnya jumlah pasangan calon.


z